Anak Hadapi Global Dengan Ilmu dan Akhlak Bangsa Indonesia
Swarapita.com, Jakarta – Globalisasi merupakan proses keterbukaan semua lini dari seluruh penjuru dunia, menyebabkan masuk nya seluruh informasi disetiap celah-celah kehidupan kita. Transformasi budaya luar negara kita, masuk ke budaya lokal dengan sangat pesat, cepat dan tanpa sekat. Penyebaran nya didukung oleh proses migrasi yang semakin banyak di lakukan oleh masyarakat kita, ini akan sangat berpengaruh, dilihat dari perspektif bidang ekonomi, sosial dan kebiasaan. Lingkungan rumah, dan keluarga, memberikan andil besar dalam pembentukan perilaku anak.
Di sisi lain kecenderungan orang tua memiliki niat yang baik dalam pengasuhan anak, namun tidak didukung oleh pengetahuan cukup tentang pola asuh yang tepat.
Para ilmuwan menyebutkan, adanya pilar dalam pola pengasuhan anak, yang dapat dijadikan paduan dalam langkah baik dalam mengasuh anak. Pilar-pilar tersebut dapat kita golongkan dengan memadukan kekompakan serta kerja sama antara kedua orang tua, belaian orang tua yang merupakan pondasi penting dalam pengasuhan, aturan-aturan yang disepakati bersama dan diterapkan secara konsisten, mengembangkan pola bahasa positif, emosi yang terkendali, akhirnya melahirkan pola asuh tanpa kekerasan.
Karakter anak, dibentuk berdasarkan kebiasaan yang terpupuk sejak dini, hal seperti ini cenderung bertahan hingga usia dewasa. Kembali ilmuwan meneliti, kita, orang tua akan menjadi pusat kendali perilaku, yang terbentuk melalui pengalaman hidup, pengalaman ini akan dilalui melalui program-program perjalanan usia, yang membangun sistem kepercayaan dan ketahanan diri seseorang. Di saat anak-anak mampu menyelaraskan diri dengan prinsip universal dalam kerangka kebenaran dan keadilan, maka perilaku yang kita jalani akan menghasilkan ketenangan dan kebahagiaan.
Dalam konteks pembangunan karakter anak Indonesia, menuju Indonesia Emas ditahun 2045 kelak, kebiasaan-kebiasaan yang mendasar, dan menjadi turun menurun dalam setiap generasi akan menentukan tingkat keberhasilan mereka. Anak-anak perlu diajarkan untuk bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, tidur cepat.
Meski implementasi tersebut, menemui sejumlah tantangan, seperti lingkungan keluarga yang tidak kondusif, pengaruh teknologi dan media sosial, keterbatasan ekonomi, budaya dan kebiasaan lama, kurang nya pengetahuan dalam pemahaman menjadi orang tua.
Dari pandangan tersebut, sebagai orang tua, diperlukan metode mengatasi tantangan yang ada, dengan langkah strategis yang efektif, ikut serta memahami pola didik sekolah, kembangkan pembelajaran efektif untuk menciptakan pola gemar belajar, pemanfaatan teknologi secara bijak dan proporsional. Penulis mengharapkan seluruh kebaikan langkah orang tua secara bersama mendampingi tumbuh kembang anak, menjadi pondasi kokoh, untuk mencetak generasi muda Indonesia yang berkarakter unggul, berakhlak mulia, serta siap menghadapi tantangan dunia global di masa depan.
SELAMAT HARI ANAK NASIONAL 2025*
Athea Sarastiani
Swarapita
